Tampilkan postingan dengan label csr. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label csr. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Februari 2011

Mobil Klinik Untuk Masyarakat

Tegal, 21 Februari 2011 – Selama dua hari berturut-turut, Sabtu dan Minggu lalu (19 dan 20 Februari 2011), Mobil Klinik Indosat (Monik) kembali mendatangi Kecamatan Bumijawa dan Bojong, Kabupaten tegal. Pada hari Sabtu (19/2) pengobatan gratis beraksi untuk warga desa Bumijawa. Acara dihadiri sekitar 100 orang pasien yang terdiri dari ibu hamil, balita, orang dewasa serta manula, bertempat di Pondok Pesantren Islahul Ihsan.

Monik hadir melalui kerjasama Indosat, Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Tegal serta Forum Komunikasi Mahasiswa Masyarakat (Forkommat) Tegal. Tak lupa pula dukungan dari tim dokter yang direkrut oleh BSMI untuk mengobati pasien-pasien tersebut.

“Kami harap pengobatan ini bisa menjangkau seluruh aspek kondisi sosial sehingga kesehatan masyarakat dapat terpenuhi. Kegiatan bertajuk Monik ini dibatasi hanya 100 orang saja, dimana BSMI dan Forkommat sudah memberikan jatah kuponnya, sehingga acara bisa berlangsung dengan kondusif.” kata Nurkholis, Head of Tegal Branch.
Dibatasinya peserta sejumlah 100 orang ini dibuat sesuai dengan kapasitas obat dan juga tenaga jasa dokter yang juga memiliki kesibukan di rumah sakit.

Di hari berikutnya (20/2), tim Monik kembali menggelar aksi pengobatan di Pondok Pesantren Al Umariyah, desa Gunung Jati Kecamatan Bojong. Dengan melewati jalur pedesaan yang cukup terjal, Monik berhasil melayani 100 pasien sesuai kuota hingga tengah hari. Tidak ada hambatan yang terjadi, antusiasme warga justru terlihat jelas dengan antrian panjang peserta sebelum acara dimulai.

KH. Ali Mahfud, pengasuh Pondok Pesantren Al Umariyah mengaku senang Indosat bisa menjangkau pesantrennya, “Terima kasih kepada Indosat, BSMI dan Forkommat sehingga warga kami dapat berobat dengan gratis dan mengharap kegiatan ini dapat berlangsung secara berkelanjutan.”. Ali juga mengharapkan bentuk bantuan social untuk siswa pesantren dalam bentuk barang.

“Masih ada delapan agenda Monik sampai bulan Maret mendatang. Setelah itu akan dibuat jadwal lagi yang akan mendatangi masyarakat setiap minggu atau dua minggu. Kesehatan adalah anugerah dari Tuhan untuk manusia, sehingga kita harus mengutamakannya.” tutup Nurkholis sembari tersenyum.

Senin, 09 Februari 2009

INDONESIA HIJAU di “Kampung Jati INDOSAT” Blora – Jawa Tengah :Upaya Indosat untuk Hijaukan Lahan Gundul

Blora, 7 Februari 2009 – Melanjutkan program INDONESIA HIJAU yang diluncurkan pada akhir 2008, PT Indosat Tbk kembali melaksanakan penanaman 10.000 pohon bekerja sama dengan pemerintah daerah Blora, di Kampung Jati Indosat, desa Tawangrejo, kecamatan Tunjungan, kabupaten Blora. Kampung Jati Indosat merupakan area di desa Tawangrejo tersebut, dengan luas 15 hektar yang menjadi area penanaman 10.000 pohon jati dari Indosat dalam upaya membantu menghijaukan lahan gundul di desa tersebut.


“Komitmen kami untuk menjadi pionir lingkungan di industri telekomunikasi kami wujudkan melalui inisiatif Indonesia Hijau dengan 2 program besar yaitu program Sejuta Pohon untuk Indonesia dan program BTS Energi Alternatif. Kami yakin dengan komitmen ini, kami turut peduli terhadap kelestarian lingkungan yang disinergikan dengan kebutuhan operasional perusahaan, serta yang lebih penting lagi dapat turut mewariskan lingkungan yang lebih hijau kepada generasi selanjutnya”, demikian disampaikan Johnny Swandi Sjam, Direktur Utama Indosat, di sela-sela acara penanaman pohon di Kampung Jati Indosat.


Penghijauan di Kampung Jati Indosat ini ditandai dengan penyerahan bibit secara simbolis dari Direktur Utama Indosat, Johnny Swandi Sjam, kepada Bupati Blora, Yudhi Sancoyo, untuk seterusnya bibit-bibit jati tersebut akan diserahkan kepada masyarakat dan akan dikelola oleh masyarakat yang menerima tersebut, khususnya di desa Tawangrejo, Kecamatan Tunjungan, kabupaten Blora.


Sementara itu, Bupati Blora Yudhi Sancoyo mengatakan, “Mewakili masyarakat Blora, kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Indosat yang telah memberikan kepedulian kepada masyarakat dan lingkungan melalui program penanaman pohon jati khususnya di desa Tawangrejo ini. Semoga upaya kepedulian ini juga memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, yang pada akhirnya juga dapat dikembangkan untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat nantinya”.


Selesai penyerahan bibit, dilanjutkan dengan simbolis penanaman bibit pohon jati di area “Kampung Jati Indosat”. Di samping itu juga dilakukan peresmian Gapura “Kampung Jati Indosat”. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama Indosat dan Bupati Blora, disaksikan oleh para tamu undangan yang terdiri dari unsur pemerintahan, Dealer, IM3 Community, Sekolah, mitra perusahaan dan media.


“Kami yakin dengan semua inisi
atif kami dalam mewujudkan program-program Indosat Cinta Indonesia, termasuk program INDONESIA HIJAU ini, akan memacu kami untuk menjadi perusahaan yang selalu bertumbuh, menerapkan tata kelola perusahaan yang baik dan selalu memberi manfaat dan peduli pada masyarakat serta lingkungan sekitar”, tambah Johnny Swandi Sjam.


Selama ini program Indonesia Hijau di Indosat Regional Jawa Tengah dan DIY telah dilaksanakan juga dalam bentuk bantuan tanaman / pohon ke sekolah-sekolah di Yogyakarta, Magelang dan sekitarnya, juga ke Dinas Pertanian, Pemda Boyolali, Pemda Wonogiri, Pemda Purbalingga dan desa-desa di wilayah cabang Purwokerto, Dinas Pertamanan di Semarang, dan sebagainya. Bahkan setiap karyawan Indosat, dibagikan 10 pohon produktif seperti pohon mangga, jambu, kelengkeng, rambutan, dsb. untuk wajib ditanam di sekitar tempat tinggalnya. Ke depan, Program Indonesia Hijau ini akan konsisten dilaksanakan dengan terus menjalin kerjasama dengan instansi-instansi, pemerintahan, sekolah, dll. “Ini bukti kepedulian kami, dengan berperan aktif mendukung program penghijauan yang dicanangkan oleh Pemerintah. Semoga dengan program Indonesia Hijau ini, Indosat dapat memberikan kontribusi dalam turut serta menjaga kelestarian alam,” ungkap Andi Samsul Hadi, Head of Central Java & DIY Region mengakhiri pembicaraan (jowL)

Kamis, 05 Februari 2009

Dari lokasi bencana tanah longsor di Bantarkawung, Brebes (3-Habis)

Dari lokasi bencana tanah longsor di Bantarkawung, Brebes (3-Habis)

Cigunung, Sepi Desanya, Sepi Berita, Sepi Bantuan

Didampingi kakaknya yang tertelanjang dada, Usman, pemuda desa yang berparas sepertu Ustadz itu menemui Jumadi dan Artha, tim Indosat yang mencapai lokasi bencana sore itu. Di atas tanah bekas bangunan yang sudah rata dengan tanah karena tertimpa longsor pada bencana yang menimpa dusun mereka Selasa lalu, Usman bercerita tentang dusun tempat tinggalnya itu.

Berada di puncak bukit di salah satu Gunung Gajah, Brebes bagian selatan, desa tempat tinggalnya memang termasuk sepi. Dari kurang lebih 110 kepala keluarga, sebagian besar pemuda-pemudinya telah merantau ke kota Jakarta, Bandung dan kota besar lainnya untuk mencari kerja.

Untuk mencapai kantor lurah saja, warga dusun ini harus menuruni bukit melewati jalann kecil yang berada di pinggir sungai yang namanya sama dengan nama desanya itu. Jika malam tiba dipastikan hanya cahaya bulan yang menjadi penerangannya.

Anak-anak dusun ini juga menempuh jalan yang sama untuk mencapai sekolah dasar yang terletak di pusat desa. Sebuah gambaran kesunyian yang terasa sampai relung hati.. Lukisan perjuangan yang menggugah jiwa.

Dan kesunyian semakin terasa ketika desa ini tertimpa bencana, sampai hari ketiga setelah kejadian, desa ini sepi dari pemberitaan. Memang banyak berita yang mengisi media lokal tentang terjadinya bencana di salah pinggiran wilayah Kabupaten Brebes yang terkenal dengan hasil bumi dan telur asin ini, namun hampir tidak ada yang mengulas kondisi desa ini. Dan sepinya berita menjadikan warga desa ini harus bersabar karena sepinya bantuan yang datang.

Hingga datang bantuan dari 2 buah parpol yang datang, bahkan salah satunya mengerahkan puluhan anggotanya untuk membantu mengangkat puing-puing rumah yang hancur dan membawa bantuan logistik. Disusul kemudian Indosat dan PKPU yang langsung menuju ke lokasi bencana meskipun harus menempuh jalan panjang yang berliku.

Kita berharap setelah ini pemerintah daerah setempat, para dermawan dan kita semua memberikan perhatian yang lebih kepada warga yang tertimpa bencana.

Selain Cigunung, masih ada desa Telaga yang bahkan sebagian besar warganya mengungsi dan kehilangan rumah, masih ada desa Pawenangan dan desa-desa lain yang membutuhkan uluran tangan kita semua. (js)

Mendaki Gunung dengan Trail, Berulang Kali Terguling

Dari lokasi bencana tanah longsor di Bantarkawung, Brebes (2)

Mendaki Gunung dengan Trail, Berulang Kali Terguling

Untuk menjangkau sampai ke lokasi bencana di dusun Cigunung, desa banjarsari, Bantarkawung, Kabupaten Brebes, tim Indosat yang berangkat dari Tegal menempuh jarak total 100 km dengan waktu tempuh lebih dari 4 jam. Satu jam diantaranya harus ditempuh dengan mendaki menggunakan motor trail.

Berangkat bersama dari Tegal menempuh jalan darat kemudian transit di Bumiayu untuk belanja logistik. Di pasar Bumiayu, tim Indosat-PKPU yang dikomandoi Jumadi, Dept. Head Marketing Communication Indosat Cabang Tegal, membeli logistik untuk disumbangkan kepada korban bencana.

Selama 1 jam lebih harus berpindah dari toko ke toko untuk membeli barang kebutuhan. Didampingi Supriyono, salah satu warga Cigunung yang menjadi pemandu untuk mencapai lokasi. Supri, panggilan lelaki sederhana tersebut turun dari desanya untuk menjemput tim relawan di Bumiayu.

Setelah mendapatkan logistik yang dibutuhkan, bahan makanan dan peralatan yang berupa beras sebanyak 5 kwintal, minyak sayur, kecap, senter dan perlengkapan lain itu dimuat dalam sebuah mobil angkutan kota untuk dibawa ke desa Banjarsari yang berjarak kurang lebih 30 km.

Dari desa Banjarsari, mobil tidak bisa menjangkau lokasi. Logistik dibawa menggunakan motor trail yang disewa dari beberapa pemuda di desa sekitar. Jumadi dan tim menempuh jarak kurang lebih 5 km dengan ketinggian 600 meter dpl. Melewati jalan sempit licin dan berbatu terjal, mendaki tebing curam, menyeberang sungai dan berkali-kali harus turun dari motor dan mendorong motor agar bisa menanjak.

Belum cukup perjuangan tim Indosat-PKPU menuju Cigunung. Berulang kali motor terpeleset, terguling dan harus memanggul logistik menuju jalan yang sedikit mendatar. Gerimis hujan menambah sulitnya menempuh jarak meunju lokasi.

Setelah berjibaku dengan lumpur hampir satu jam lamanya, tim mencapai dusun Cigunung. Daerah lereng bukit di sisi Gunung Gajah itu dihuni oleh sekitar 110 kk. Beberapa rumah yampak rata dengan tanah. Puluhan lainnya retak-retak dan beberapa lagi tertimbun tanah di bagian belakang rumahnya.

Setelah menyerahkan bantuan kepada warga, menyampaikan empati dan berbincang-bincang dengan warga beberapa saat, tim Indosat tidak bisa berlama-lama di lokasi. Waktu yang sudah hampir gelap, kabut yang mulai menyelimuti desa, memaksa Jumadi dan tim untuk turun kembali ke Banjarsari. Seperti saat berangkat, ketika turun juga mengalami hal yang sama. Beberapa kali motor yang dinaiki Jumadi dna Artha tergelincir dan memaksa mereka haru berkubang dengan lumpur.

Sebuah perjuangan hanya untuk menunjukkan sebuah kepedulian. Sebuah semngat yang sudah mulai memudar dan patut untuk dipupuk kembali dari sekarang. Indosat kembali menujukkan kepedulian, semangat untuk berbagi. (js)

Dari lokasi bencana tanah longsor di Bantarkawung, Brebes (1)

Dari lokasi bencana tanah longsor di Bantarkawung, Brebes (1)

Indosat bersama PKPU serahkan bantuan pangan langsung ke lokasi


Begitu membaca berita terjadinyabencana tanah longsor di kecamatan Bantarkawung, tim Indosat peduli meluncur ke lokasi bencana membawa bantuan yang dikumpulkan dari karyawan-karyawati Indosat. Bersama tim Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) yang juga membawa bantuan logistik dari beberapa pihak, tim Indosat langsung menyerahkan ke lokasi bencana. Laporan dari lokasi akan ditulis dalam beberapa tulisan.

Hari Selasa dini hari adalah hari yang membawa duka bagi warga dusun Cigunung, desa Banjarsari, kecamatan Bantarkawung Kabupaten Brebes. Bencana tanah longsor yang menimpa dusun itu membuat keluarga Muhidin (50) yang rumahnya hancur rata dengan tanah. Begitu pula yang menimpa 5 rumah lain di dusun itu. Masih ada puluhan rumah lainnya yang retak-retak. Mereka terpaksa mengungsi ke rumah saudara-saudaranya yang lokasinya ada di bawahnya.

Dusun Cigunung hanya salah satu lokasi dari 7 lokasi bencana tanah longsor yang menimpa kecamatan Bantarkawung. Masih ada 6 lokasi lain yang sama. Total di kecamatan ini, ada lebih dari 20 rumah rata dengan tanah dan ratusan lainnya rusak parah. Bahkan di desa Telaga hampir seluruh warganya mengungsi. Menurut camat setempat seperti yang direlease media, ada 1.072 warga yang mengungsi.

Tim Indosat dipimpin oleh Dept. Head Marketing Communication, Jumadi bersama Head of Bumiayu Reps, Aris Sulistyawan dan Manager PKPU Tegal, Yusuf Sutanto didampingi beberapa staf Indosat dan PKPU membawa bantuan logistik yang terdiri dari 5 kwintal beras, minyak sayur, kecap, sabun, senter dan peralatan lain yang dibutuhkan warga setempat. Total nilai bantuan yang diserahkan mencapai 5 juta rupiah.

Lokasi bencana, dusun Cigunung sendiri terletak kurang lebih 90 km dari pusat Kabupaten Brebes ke arah selatan, atau kalau dari Bumiayu kuranglebih 30 km. Namun jarak tempuh cukup lama mengingat daerah yang berada di pegunungan. Kendaraan hanya bisa sampai ke desa Banjarsari. Untuk menuju ke Cigunung harus ditempuh dengan jalan kaki atau naik motor jenis trail. Membutuhkan waktu 1,5 jam dari Bumiayu untuk mencapai lokasi bencana.

Bencana tanah longsor ini sendiri terjadi pada hari Selasa (3/2) pagi hari. Meskipun kerusakan yang menimpa warga cukup parah, namun belum banyak bantuan yang diterima warga. Mungkin disebabkan lokasi bencana yang sangat jauh. Dari keterangan warga yang ditemui Jumadi, bantuan yang datang baru dari Indosat - pkpu dan 2 parpol yang hari itu juga datang ke lokasi.

Lurah Banjarsari, AZ Muttaqin menyatakan sangat berterima kasih kepada Indosat dan PKPU yang telah memberikan bantuan yang sangat berharga untuk warganya yang tertimpa musibah.

“Kami hanya bisa mengucapkan terima kasih yang tulus, semoga amal dari bapak-bapak dan para dermawan mendapat ganti yang lebih baik. Kami sangat terbantu dengan apa yang bapa-bapak berikan kepada kami.” Ungkap Lurah yang tidak tampak lelah meskipun harus mengurusi warganya yang tertimpa bencana.

Supriyono, salah satu warga Cigunung yang menjadi penunjuk jalan, bahkan rela menjemput rombongan ke Bumiayu dan membawa logistik ke lokasi bencana, juga menampakkan wajah berseri ketika menerima bantuan yang harus dibawa dengan angkot dari Bumiayu ke Banjarsari.

Dalam releasenya, Jumadi atas nama manajemen Indosat menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan ini merupakan wujud kepedulian dan empati kepada masyarakat yang tertimpa bencana.

Sedangkan Yusuf Sutanto menyatakan bahwa PKPU selalu berusaha menyampaikan amanah yang ditipkan oleh para muzakki dan dermawan yang menitipkan kepada lembaga yang dipimpinnya. Sesuai dengan program PKPU, salah satunya resque dan rehabilitasi.

Bersama-sama warga, tim Indosat dan PKPU membawa logistik menuju lokasi dengan membawa motor trail. Berkali-kali motor terjungkal karena jalan setapak yang dilalui sangat licin dan berbatu. Berulang kali karung berisi beras harus dipanggul untuk menaiki bukit lalu dibawa lagi dengan motor setelah jalannya bisa dilalui motor.

Meskipun harus bersusah payah, Indosat dan PKPU telah berusaha menunjukkan empati bagi sesama yang tertimpa bencana. Semoga yang sedikit mampu membangkitkan semangat peduli dan berbagi. (js)